Pages

RyoTherev. Diberdayakan oleh Blogger.
Free Search Engine Submission
Selamat Datang di Blog yang ngga penting ini,, semoga bermanfaat untuk anda semua.... salaam... "RyoTherev" | Welcome to Blog unimportant , may be useful for you all ... regards ... " RyoTherev " | Bienvenidos al blog sin importancia, puede ser útil para todos ustedes ... saludos ... " RyoTherev " |

Adolf Hitler Meninggal Di Sumbawa ?

Kamis, 31 Januari 2013

Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.


Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!

Kematian Misterius Sang Diktator Adolf Hitler

Kematianya masih dipertanyakan dan diperbincangkan hingga kini. Adolf Hitler, salah satu oknum paling kejam di dunia yang berasal dari Jerman. Konon, kematian sang diktator ini masih misterius. Konon juga bahwa dia diduga meninggal di Indonesia. Benarkah berita itu?

Adolf Hitler

Diktator Jerman, Adolf Hitler diyakini tewas bunuh diri di sebuah bunker di Berlin pada 30 April 1945. Namun, fakta itu kini dipertanyakan. Benarkah hal tersebut?

Di sinilah Hitler dan isterinya diduga tewas dibakar lalu dikubur

Seperti dikutip dari laman Daily Telegraph, Senin 28 September 2009, Program History Channel Documentary Amerika Serikat menyatakan tengkorak milik Hitler yang disimpan Rusia bukan milik pemimpin NAZI tersebut. Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun, bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun. Penemuan ini, menguatkan kembali teori konspirasi bahwa Hitler tidak mati pada 1945. Sungguh misterius! Dia diduga melarikan diri dan mati di usia tua.

Tengkorak yang selama ini diyakini milik Adolf Hitler

Sejumlah teori beredar soal dimana kematian Hitler. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan di Indonesia.

Jurnalis Argentina sekaligus pengarang buku “Bariloche Nazi”, Abel Basti meyakini Hitler tewas di Argentina pada 1960.

Basti mengklaim Hitler melarikan diri dari Jerman menggunakan kapal selam. Bersama belahan jiwanya, Eva Braun, Hitler diyakini menghabiskan hari-hari terakhirnya di sebuah kota bernama Bariloche. Basti mendasarkan klaimnya atas keterangan beberapa saksi. Kemudian, seperti dikutip laman Salisburypost, 30 Agustus 1999, artikel surat kabar pada 17 Juli 1945, memberitakan Hitler dan Eva Braun terlihat di Argentina.

Eva Braun

Seorang wartawan mengirim cerita dari Montevideo ke Chicago Times. Keduanya hidup di kompleks orang-orang Jerman di Patagonia. Sementara, klaim bahwa Hitler meninggal di Brazil didasarkan pengakuan anggota NAZI bahwa Hitler meninggal pada 1980 di Brazil. Brazil diketahui sebagai tempat pelarian para mantan pengikut Hitler. Sebuah makam NAZI bahkan ditemukan di pedalaman Hutan Amazon, lengkap dengan lambang NAZI di nisan yang berbentuk salib.

Makam NAZI di pedalaman Amazon

Selanjutnya, sebuah artikel mengejutkan beredar di mailing list dan laman jejaring sosial. Artikel tersebut berisi tentang cerita kematian diktator Jerman, Adolf hitler yang dikatakan telah meninggal di Indonesia.

Cerita ini berawal dari sebuat artikel di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya bernama dr Sosrohusodo, dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar.

Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960. Poch adalah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau tersebut.

Dokter Poch

Klaim yang diajukan dr Sosrohusodo jadi polemik. Dia mengatakan dokter tua asal Jerman yang dia temui dan ajak bicara adalah Hitler di masa tuanya.

Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal. Dikatakan bahwa dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan. Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul.

Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya, sesuai dengan yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun.

Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan.

Keyakinan Sosro, bahwa dia bertemu Hitler dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, dia makin yakin bahwa Poch, dokter tua asal Jerman yang dia temui adalah Hitler.

Keyakinannya bertambah saat seorang keponakannya, pada 1980, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.

Pada halaman 59 artikel itu, diceritakan kondisi fisik Hitler di masa tua.

“Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf.”

Saat membaca buku tersebut, Sosro makin yakin, sebab kondisi fisik yang sama dia temukan pada diri Poch. Dalam buku tersebut juga diceritakan tangan kiri Hitler selalu bergetar sejak pertempuran Stalingrad (1942 -1943).

Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch yang diduga adalah Hitler. Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi.

“Saat saya bertanya soal kematian Hitler, dia mengatakan tak tahu. Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan chaos atau kacau. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing,” kata Sosrohusodo, seperti dimuat laman Militariana.

Sosro mengaku pernah memeriksa tangan kiri Poch yang selalu bergetar. Saat menanyakan kapan gejala ini mulai terjadi, Poch lalu bertanya pada istrinya yang lalu menjawab, “Ini terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran dekat Moskow. Saat itu Goebbels mengatakan padamu bahwa kau memukuli meja berkali-kali.”

Goebbels yang disebut istri Poch diduga adalah Joseph Goebbels, menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch, yang diduga Eva Braun, beberapa kali memanggil suaminya ‘Dolf’, yang diduga kependekan dari Adolf Hitler.

Joseph Goebbels

Usai membaca artikel-artikel tersebut, Sosro mengaku menghubungi Sumbawa Besar. Dari sana, dia memperoleh informasi dr Poch meninggal di Surabaya.

Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah Ngagel.
Sementara istrinya yang asal Jerman pulang ke tanah airnya, Poch diketahui menikah lagi dengan wanita Sunda asal Bandung berinisial ‘S’. Dia diketahui tinggal di Babakan Ciamis.

Setelah menutup mulut, ‘S’ akhirnya memberi semua dokumen milik suaminya pada Sosro, termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.

Ada juga buku catatatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa tulisan tangan steno dalam bahasa Jerman

Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, kode simbol lelaki dan perempuan.

“Ada kemungkinan buku catatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun,” kata Sosro.

Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian Hitler, yakni B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar.

Istri kedua Poch, ‘S’ juga menceritakan suatu hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler. Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, “Jangan bilang siapa-siapa.” Sosro mengaku tak ada maksud tersembunyi di balik pengakuannya. “Saya hanya ingin menunjukan Hitler meninggal di Indonesia,” kata dia.

Hingga saat ini apakah Hitler tewas di bunker, di Argentina, Brazil, atau Indonesia, belum bisa dipastikan. Kisah akhir hayat ‘sang Fuhrer’ terus menjadi misteri.

Free Download AutoDesk 123D Software

Selasa, 29 Januari 2013

Autodesk 123D adalah aplikasi gratis untuk membuat objek 3D. Dengan aplikasi ini sobat bebas berkreasi untuk membuat berbagai bentuk 3D baik itu mobil, sepeda ataupun yang lain.
Beberapa fitur dari AutoDesk 123D ini adalah sebagai berikut:
  • Membuat/mengedit desain 3D dari awal
  • Dapat digunakan untuk memodifikasi dan memberi desain lebih kompleks terhadap file 3D yang sudah ada di aplikasi tersebut.
  • Lihat Cube untuk mengubah arah tampilan desain.
  • Upload desain sobat untuk dijual melalui pilihan “Get Content”
  • Tersedia untuk windows 32 bit dan 64 bit




Untuk mendownloadnya ada beberapa langkah:
  • Klik link ini
  • Pilih salah satu pilihan tombol Windows 32 bit jika sobat menggunakan windows  32 bit dan pilih tombol windows 64 bit jika sobat menggunakan windows 64 bit.
  • Setelah itu sobat diminta untuk sign up, langkah ini silahkan sobat mendaftar
  • Kemudian setelah mendaftar maka secara otomatis akan mendownload, perlu diingat file yang sobat download lumayan besar jadi perlu kesabaran untuk mendownloadnya
  • Kalau sudah terdownload silahkan di instal dan ikuti prosedur instalan tersebut
Silahkan berkreasi menurut keinginan sobat karena Autodesk123D ini benar-benar  software CAD terbaik dan user friendly. Sobat bisa mendesain dari awal atau bisa juga menggunakan contoh desain di aplikasi ini. OK selamat membuat gambar 3D dengan aplikasi ini.

Membuat share posting blog otomatis ke facebook dan twitter

Senin, 28 Januari 2013

merupakan suatu cara yang tidak terlepas untuk mempromosikan judul artikel yang baru diterbitkan sehingga dengan mudah para pengikut twitter dan para pengikut halaman kesukaan facebook membuka pemberitahuan baru lewat media social tersebut apabila sudah bergabung. Hal ini tentu akan menambah trafik blog anda apabila judul posting yang anda buat menarik perhatian minat pembaca untuk mengkliknya.

Jawaban Final Pep Guardiola Akhirnya Terkuak

Jumat, 18 Januari 2013

Misteri masa depan Pep Guardiola akhirnya terkuak Rabu (16/1) malam ketika Bayern Munich menyatakan mantan pelatih sukses Barcelona itu akan menjadi bagian dari tim kebanggaan Bavaria musim mendatang.

Sejarah dan Masa Kini Jerman

Rabu, 12 Desember 2012

800: Karel Agung

Penguasa Kerajaan Franken dinobatkan sebagai Kaisar Romawi oleh Paus Leo III. Pada zaman modern, nenek-moyang wangsa Karolinger itu yang meninggal pada tahun 814 di Aachen, dinamakan ”Bapak Eropa“.
 
962: Otto I, yang Agung

Dengan penobatan Otto sebagai kaisar mulailah sejarah ”Kerajaan Romawi Suci“.

1024–1125/1138–1268: Salier dan Staufer

Wangsa Salier, pembangun katedral di Speyer, dan wangsa Staufer menentukan sejarah Eropa.

1179: Hildegard dari Bingen

Kepala biara dan ahli pengobatan, salah seorang perempuan terkemuka abad pertengahan di Jerman, meninggal dalam usia 81 tahun di Bingen pada Sungai Rhein.

1452–1454: Seni cetak buku

Penemu seni cetak buku dengan leter yang dapat digerakkan, Johannes Gutenberg (sekitar 1400-1468), untuk pertama kali mencetak Alkitab dengan tiras kira-kira 180 eksemplar di Mainz.

1493: Kenaikan wangsa Habsburg

Dengan masa pemerintahan Kaisar Maximilian I dimulai kenaikan dinasti Habsburg. Berabad-abad lamanya keluarga bangsawan itu tergolong wangsa terkemuka di Eropa Tengah. Jumlah terbesar di antara kaisar dan raja dalam Kerajaan Romawi Suci [1] Bernasion Jerman adalah anggota keluarga Habsburg, begitu juga raja Spanyol dalam kurun waktu 1504-1700.

1517: Perpisahan umat beriman

Zaman reformasi mulai di Wittenberg pada saat Martin Luther (1483- 1546) mengumumkan ke-95 tesisnya yang menentang praktik pengampunan denda dosa dalam Gereja Katolik.

1618–1648: Perang Tiga Puluh Tahun

Perang yang merupakan perselisihan antarumat beriman dan sekaligus konflik antarnegara itu berakhir dengan Perdamaian Westfalia. Umat beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan (Lutheran dan Reformasi) dinyatakan berhak sama.

1740–1786: Friedrich Agung

Selama masa pemerintahan Friedrich II, seorang pencinta seni dan panglima perang, Prusia maju menjadi negara adidaya di Eropa. Pemerintahan Friedrich dianggap sebagai contoh bagi era ”absolutisme yang telah mengalami pencerahan“.

1803: Sekularisasi

Pengambilalihan wilayah milik lembaga keagamaan dan peniadaan status Kota Bebas melalui keputusan Reichsdeputationshauptschluss mengawali akhir dari ”Kerajaan Romawi Suci Bernasion Jerman“.

1848/49: Revolusi Maret

”Revolusi Jerman“ berawal di kerajaan Baden di sebelah barat daya dan cepat menyebar ke negara-negara lain anggota Serikat Jerman [2]. Hasilnya ialah Majelis Nasional Jerman pertama yang bersidang di Paulskirche di Frankfurt am Main.

1871: Pendirian Reich

Pada tanggal 18 Januari, saat Perang Jerman-Perancis belum berakhir, Wilhelm I diproklamasikan di Versailles sebagai Kaisar Jerman. Reich Jerman (yang kedua) berupa monarki konstitusional. Tidak lama setelah pendirian kerajaan itu, perekonomian Jerman mengalami perkembangan cepat.

1914–1918: Perang Dunia I

Kebijakan luar Negeri Kaisar Wilhelm II membuat Jerman terisolasi dan mengantarnya ke dalam musibah Perang Dunia I yang mengakibatkan hampir 15 juta korban jiwa. Pada bulan Juni 1919 ditandatangani perjanjian perdamaian di Versailles.

1918/19: Republik Weimar

Pada tanggal 9 November tokoh sosialis-demokrat Philipp Scheidemann memproklamasikan republik; Kaisar Wilhelm II turun takhta. Pada tanggal 19 Januari 1919 diadakan pemilihan umum untuk majelis nasional.

1933: Nasionalsosialisme

Pada pemilihan Reichstag tahun 1932, NSDAP menjadi partai terkuat. Adolf Hitler menjadi Kanselir Reich pada tanggal 30 Januari 1933. Dengan ”UU Pemberian Kuasa“ mulailah diktatur Nazi.

1939: Awal Perang Dunia II

Dengan serangan mendadak ke Polandia pada tanggal 1 September 1939, Hitler mencetuskan Perang Dunia Kedua [3]. Perang itu menewaskan 60 juta jiwa dan menghancurkan kawasan-kawasan luas di Eropa dan di Asia Timur. Enam juta orang Yahudi menjadi korban politik pemusnahan Nazi.

1945: Akhir Perang Dunia II

Dengan kapitulasi angkatan bersenjata Jerman pada tanggal 7/9 Mei 1945, Perang Dunia Kedua [3] berakhir di Eropa. Negara-negara pemenang membagi Jerman menjadi empat zone pendudukan, dan Berlin menjadi empat sektor.

1948: Blockade Berlin

Diresmikannya pemakaian mata uang D-Mark di ketiga zone pendudukan Barat menjadi alasan bagi Uni Sovyet untuk menutup semua jalan akses ke Berlin Barat pada tanggal 24 Juni 1948. Negara-negara sekutu Barat menjawab dengan ”jembatan udara“ yang menjadi sarana untuk memasok kebutuhan hidup penduduk Berlin Barat sampai bulan September 1949.

1949: Pendirian Republik Federal Jerman

Undang-undang Dasar Republik Federal Jerman diumumkan di Bonn pada tanggal 23 Mei 1949. Pemilihan umum pertama untuk Bundestag diadakan pada tanggal 14 Agustus. Konrad Adenauer (CDU) dipilih menjadi Kanselir Federal. Perpisahan antara Timur dan Barat terjadi pada tanggal 7 Oktober 1949 dengan pemberlakuan Konstitusi RDJ [4].

1957: Perjanjian-Perjanjian Roma

Republik Federal Jerman termasuk di antara enam negara yang menandatangani perjanjian pendirian Masyarakat Ekonomi Eropa di Roma.

1961: Pembangunan Tembok Berlin

Pada tanggal 13 Agustus 1961, RDJ [4] menutup wilayahnya dengan membangun tembok di tengah kota Berlin dan dengan ”koridor maut“ sepanjang perbatasan antara kedua negara Jerman.

1963: Perjanjian Elysée

Perjanjian Persahabatan Jerman- Perancis di-tandatangani oleh Kanselir Federal Konrad Adenauer dan Presiden Perancis Charles de Gaulle.

1970: Berlutut di Warsawa

Isyarat Kanselir Federal Willy Brandt (SPD) pada monumen untuk para korban pemberontakan di kampung Yahudi di Warsawa menjadi simbol permintaan Jerman akan rekonsiliasi.

1989: Runtuhnya Tembok Berlin

Berkat revolusi secara damai di RDJ [4], malam hari pada tanggal 9 November Tembok Berlin runtuh. Dengan demikian perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat sudah tidak ada.

1990: Reunifikasi [5] Jerman

Pada tanggal 3 Oktober berakhirlah eksistensi RDJ [4]. Persatuan negara Jerman telah dipulihkan. Pada tanggal 2 Desember 1990 berlangsung pemilihan pertama untuk Bundestag yang diadakan di seluruh Jerman. Helmut Kohl (CDU) menjadi Kanselir Federal pertama dari Jerman Bersatu.

2004/2007: Perluasan Uni Eropa

Setelah Uni Sovyet bercerai-berai dan komunisme jatuh, delapan negara Eropa Tengah dan Eropa Timur serta Siprus dan Malta bergabung dengan UE. Bulgaria dan Rumania menyusul 2007.

 

“Kuda Hitam” VS “Kambing Hitam”

Selasa, 13 November 2012

“Kuda hitam” dan “kambing hitam” adalah dua kiasan (metafor) yang tidak asing terdengar di telinga kita. Kedua metaphor tersebut sering ditemukan dalam konteks kompetitif. Namun keduanya memiliki konotasi makna yang jauh berbeda. Istilah kuda hitam digunakan untuk merefleksikan sesuatu keadaan yang tidak disangka-sangka yang tiba-tiba muncul sebagai pemenang dalam suatu pertandingan. Sementara kambing hitam adalah kiasan untuk merefleksikan suatu tindakan menyalahkan suatu keadaan atau pihak lawan atas ketidakmenagan dalam suatu pertandingan. Tujuan utama dari tidakan pengambinghitaman adalah untuk menutupi kelemahan-kelemahan baik yang bersifat individu, kelompok bahkan Negara. 
Tulisan berikut mencoba menganalisa beberapa dampak negatif dari “metode kambing hitam”. Tulisan ini tidak bertujuan khusus mengomentari fenomena perpolitikan, atau kususnya pemilu yang baru saja berlangsung di negeri kita. Namun lebih bersifat global terhadap sikap individual kita dalam menyikapi setiap perjuangan kehiduapan dalam usaha pengembangan diri secara maksimal, baik secara intelektualitas, spritualitas dan juga moralitas politik. 
Namun penulis hanya ingin menekankan bahwa, kesadaran dan keakuratan menganalisa dampak positif dan negative terhadap suatu tindakan akan menjadi lebih penting, terutama dalam konteks Aceh. Terutama jika kita punya cita-cita untuk menjadikan Aceh sebagai “kuda hitam” perkembangan setelah lama tidak “diperhitungkan” (baca: mengalami ketertinggalan dalam berbagai bidang). Terlebih ketika issu tsunami dan konflik tidak begitu layak lagi untuk bisa kita”jual”, solusi lain harus segera dipikirkan, yaitu dengan menumbuhkembangkan kembali motivasi, etos kerja serta kreativitas nyata pemerintah dan masyarakat Aceh. 

Secara historis, istilah kambing hitam atau scapegoat bukanlah istilah baru dalam sejarah kehidupan manuasia. Menurut Wikipedia online encyclopedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Scapegoat), ia telah muncul sejak abad XV dan memiliki latar belakang sejarah yang panjang dalam sejarah Ibrani dan Kristiani. Secara etimologi, istilah kambing hitam merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani modern “Azazel” yang sering digunakan sebagai kata ejekan yang berarti “pergi ke neraka”.Lebih jauh, istilah kambing hitam yang tidak punya hubungannya sama sekali dengan warna ternyata tidak hanya sebatas istilah. Masih menurut Wikipedia online encyclopedia, pengambinghitaman (Scapegoating) juga merupakan sebuah teori social keagamaan (socio-religious) yang dikembangkan oleh René Girard, seorang antropolog Kristen controversial. 
Dalam sejarah modern, istilah kambing hitam sebagai metafor (kiasan) juga masih banyak ditemukan. Tidak hanya dalam konteks politik dan olahraga tetapi juga dalam konteks pendidikan atau bahkan dalam banyak aspek kehidupan lainnya. Hal itu karena metode kambing hitam dianggap sebagai alat propaganda yang sangat ampuh. Salah satu contoh terkenal dari “metode kambing hitam” dalam dunia politik adalah propaganda Nazi pasca perang dunia I. Sementara dalam dunia olah raga, contoh yang umum diketahui adalah kasus yang menimpa pemain sepak bola Columbia, Andrés Escobar, yang ditembak mati saat ia kembali ke tanah airnya karena dikambinghitamkan dengan gol bunuh dirinya di Piala Dunia 1994. 
Dari dua contoh tersebut di atas terlihat jelas bahwa, meskipun secara political-emotional tindakan tersebut diaggap “berhasil” atau memuaskan pelakunya, namun secara socio-rational sistem pengambinghitaman pada prinsipnya mengandung resiko besar dan fatal. Beranjak dari kedua kasus ini, berikut ini penulis mencoba menganalisa beberapa resiko lainya dari metode tersebut, baik dalam kaitannya dengan politik, pendidikan maupun agama. 
Jika kita menyikapinya dengan bijak, sedikitnya ada beberapa resiko besar lainnya dari kebiasaan pengambinghitaman. Namun resiko yang paling mendasar dan berbahaya menurut penulis adalah matinya motivasi dan kreatifitas pengembangan diri. Pertama, matinya motivasi adalah fatal kerana akan berdampak pada menghambatnya pengembangan diri. Menutupi kekurangan diri dengan tidak mengakui kehebatan orang lain akan mematikan motivasi. Dia akan menutupi ruang pikir untuk mencari solusi logis terhadap sebab-sebab yang sebenarnya dari kegagalan tersebut. Jika kita sadari, belajar pada kesalahan atau kekurangan diri sebenarnya memiliki nilai yang lebih murni dan hakiki. Karena ia terbebas dari unsur ego dan ria, yang sering menjerumuskan seseorang kedalam kesombongan dan kebohongan diri. 
Kedua, bahaya lain dari kebiasaan pengambinghitaman adalah akan mematikan kreatifitas. Dalam konteks pendidikan misalnya, karena guru sering dijadikan ”kambing hitam” terkait rendahnya mutu pendidikan, telah menyebabkan matinya kreatifitas para guru dan para penentu kebijakan pendidikan. Guru sebagai pihak yang dikambinghitamkan akan terasa acuh untuk tampil lebih kreatif. Mereka akan merasa sia-sia akibat “terkhianati” dengan “label kemunduran” yang telah terlanjur disematkan kepada mereka. Disisi lain, pihak penentu kebijakan pendidikan yang mengamini pengambinghitaman guru juga akan buta hati dan enggan berinovasi untuk mencari penyebab-penyebab sebenarnya dari masalah tersebut. Kita yakin para penentu kebijakan sangat tahu bahwa guru bukanlah faktor tunggal dalam masalah ini. Namun karena “kenikmatan kambing hitam” telah cenderung membuat mereka santai dan hanya berfokus pada satu problem tunggal dengan solusi-solusi yang sifatnya temporer. 
Begitu juga dalam konteks agama. Kemunduran Islam misalnya sering diklaim semata-mata sebagai ulah pihak luar yang sengaja menghambat perkembangan Islam. Akibatnya kita sering pasrah dan tidak memiliki motivasi untuk melihat sebab-sebab yang sebanarnya. Atau sekali lagi kita” cendrung kenakan dan “lalee ngen sie kameng hitam” yang terkadang juga membuat kita sempoyongan akibat kelebihan memakannya. Kalaupun klaim di atas memang benar adanya, seperti usaha-usaha para orientalis untuk memutarbalikkan fakta-fakta kebenaran Al-Qur’an. Namun sayang kita selaku pemeluk Islam tidak menjadikannya sebagai tantangan untuk bangkit dan membuktikan bahwa Islam itu tidak seperti yang mereka tuduhkan. Salah satu cara paling efektif untuk itu adalah dengan mendakwahknanya” bil hal”, yaitu dengan berperilaku dan berdiskusi sesuai tatanan dan ajaran Islam dalam setiap persoalan keagamaan kita sehari-hari. Namun kenyataannnya kita sering latah dan terpancing dengan provokasi mereka. Kita kurang menyadari bahwa kekerasan tak akan selesai jika dibalas dengan kekerasan. Seperti diingatkan dalam kalimat mutiara berikut ini: "Kun ka al-syajar, yurma bi al-hajar, wa ya'udu bi al-tsamar." (Jadilah seperti pohon. Dilempar dengan batu, tapi membalas dengan buah). 
Dampak lain dari pengambinghitaman dalam konteks politik, tulisan Zahrul Bawazir, “Ada apa setelah pemiliu? “ yang di muat di website WAA (World Acehness Association) sepertinya tepat untuk dijadikan rujukan. Zahrul menyebutkan bahwa dampak lain dari kambing hitam dalam konteks politik adalah akan membingungkan masyarakat. Demokrasi yang mencakup bebas berpendapat sering dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menjatuhkan lawan politiknya. Dan salah satu satu penyebabnya menurut beliau adalah karena sejak kecil kita diajarkan hanya untuk menang, dan sangat jarang kita diberikan arti dari sebuah kekalahan. 
Perfeksionitas dalam pandangan ini sungguh tidak bisa kita jadikan sebagai standar kesempurnaan. Karena mereka yang berhasil bukan saja ketika meraih kemenangan, tetapi ketika mereka bijak menanggapi kekalahan, mereka tergolong orang yang menang. Ketika kita dihadapkan kepada sebuah kegagalan, tidak semestinya mencari kambing hitam. Tetapi beri apresiasi kepada siapa saja yang menang. 
Namun sepertinya para elit kita masih sangat suka dengan “kambing hitam” yang justeru akan membingungkan masyarakat. Di satu sisi masyarakat harus giat mendukung kinerja pemerintah, di sisi lain mereka dibuat ragu dengan stigma yang dilepas oleh para elit parpol. Alhasil, arah perubahan yang dituju selalu mengalami sandungan. 
Mental menerima kekalahan rasanya belum dimiliki elit kita saat ini. mereka lebih senang melempar tuduhan dan mencari kesalahan orang lain. Oleh karena itu, apa salahnya jika kita tidak membingungkan negara dengan permasalahan pribadi atau kepentingan organisasi. 
Cukuplah masa bersaing itu sebelum pemilihan. Kini, saat rakyat butuh dengan perubahan, marilah seiiring mengayun langkah menciptakan sebuah pemerintah yang bersih demi tercapainya amanat rakyat yang diridhai Allah S.W.T. 
Akhirnya, satu hal yang perlu diingat bahwa untuk mencapai tujuan akhir ini “ kambing hitam dan “kuda hitam” tidak bisa berada dalam satu “kandang”. Dengan kata lain, untuk menjadikan Aceh sebagai “kuda hitam” perkembanagan nasional maka salah satu syarat utamanya adalah sembelihkan “kambing hitam”.
 

Follow Me

  • My Visitor

    Blogroll

    Most Reading

    Tags

    Free Search Engine Submission